Gejala dan Cara Mengatasi Post Power Syndrome

Apakah kamu pernah merasa kecewa, bingung, putus asa, atau bahkan khawatir yang berlebihan saat meninggalkan suatu jabatan, entah jabatan saat di kampus atau organisasi yang kamu ikuti? Jika iya, bisa jadi kamu mengalami post power syndrome. Kondisi ini merupakan salah satu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang diikuti dengan menurunnya harga diri.

Sindrom ini biasanya muncul pasca pensiun, PHK, menurunnya ketenaran seorang artis atau seseorang yang memutuskan berhenti bekerja saat ia tengah berada pada posisi atau jabatan yang cukup penting.

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap sindrom ini diantaranya adalah mereka yang sangat bangga pada jabatannya, senang dihormati, senang mengatur orang lain dan selalu menuntut agar keinginan atau perintahnya dituruti.

Sehingga ketika masa kekuasaan itu berakhir, muncullah gejala post power syndrome yang merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kondisi barunya.

Meskipun bukan tergolong penyakit kejiwaan yang serius, post power syndrome perlu segera diatasi. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan masalah kesehatan seperti darah tinggi atau depresi di kemudian hari.

Gejala Post Power Syndrome

Gejala post power syndrome terbagi menjadi tiga, yakni gejala fisik, emosi dan perilaku. Secara fisik, penderita post power syndrome ditandai dengan penampilan yang terlihat lebih kuyu dan sering sakit-sakitan.

Sementara gejala emosi ditandai dengan penderita mudah tersinggung, lebih senang menyendiri, pemurung atau sebaliknya lebih cepat marah dan tersinggung jika pendapat atau ucapannya tidak dihargai.

gejala post power syndrome

Adapun gejala perilaku yang muncul bisa dilihat dari perubahan perilaku penderita yang cenderung lebih pendiam, pemalu atau sebaliknya malah terus menerus membanggakan kejayaan karirnya di masa lampau.

Berikut rangkuman mengenai gejala kondisi tersebut yang dikutip dari berbagai sumber:

  • Gangguan fisik berupa tampak lebih tua, sakit-sakitan, tidak bergairah.
  • Gangguan emosional berupa mudah tersinggung, pemurung, menarik diri dari pergaulan dan tidak suka dibantah.
  • Gangguan perilaku berupa pendiam atau malah berbicara tentang kehebatan di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, tidak mau kalah dan menunjukkan kemarahan di berbagai tempat (rumah dan tempat umum).

Cara mengatasi post power syndrome

Penderita sindrom ini memerlukan perhatian dan dukungan dari keluarga serta lingkungan sekitarnya. Berikut ini adalah upaya yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi post power syndrome.

  • Jadilah orang yang selalu bersyukur dan bukan orang yang fokus pada materi.
  • Sadari bahwa kekuasaan dan jabatan adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik, bukan hal yang sifatnya permanen dan menjadi bahan untuk pamer, sombong atau sok jagoan.
  • Apakah anda tahu ada banyak pemimpin (leader) yang semakin dihormati saat mereka pensiun atau purna tugas? Tetapi tidak semua pemimpin bisa seperti itu. Hal-hal yang membedakan kedua jenis pemimpin tersebut adalah: ketulusan dan keikhlasan saat memimpin, prestasi saat memimpin dan kaderisasi (regenerasi) kepemimpinan. Orang akan memberikan penghargaan kepada pemimpin yang bisa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat pada saat mereka memimpin dan setelah mereka memimpin.
  • Miliki persiapan baik secara jasmani, rohani dan finansial, saat menjelang pensiun. Post power syndrome dalam bahasa sederhana mirip seperti orang yang minder atau tidak percaya diri, karena kehilangan beberapa hal. Jadi persiapan yang matang adalah salah satu solusinya.

Demikianlah penjelasan mengenai penyebab dan cara mengatasi post power syndrome yang perlu diketahui.

Kesehatan Mental

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*