Hati-hati Penularan COVID-19, Ini Jarak Aman Corona

Saat ini dunia digegerkan dengan wabah mematikan yang disebut COVID-19. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu coronavirus, dengan nama resmi SARS-CoV-12, yang menyerang saluran pernapasan dan mematikan apabila menyerang orang-orang yang sudah memiliki komplikasi kesehatan sebelumnya, seperti diabetes dan penyakit jantung. Untuk penularannya sendiri, COVID-19 ditularkan melalui droplet (cairan yang dikeluarkan saat seseorang batuk atau bersin) penderita positif virus.Menurut para peneliti, penyebaran SARS-CoV-2 yang sangat cepat disebabkan karena pergerakan orang-orang dengan gejala ringan atau tidak sama sekali. Orang-orang tersebut tidak sadar mereka membawa coronavirus di dalam tubuh mereka (carrier). Oleh sebab itu, penerapa jarak aman corona perlu dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan yang penting.

Yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah, berapakah jarak aman corona yang sebenarnya? Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika menyarankan agar orang-orang memakai masker kain saat berada di ruang public dan menjaga jarak aman corona sekitar 2 meter satu sama lain. Hal ini akan membantu memperlambat penyebaran virus dari orang-orang “asymptomatic”, atau mereka yang tidak sadar membawa virus, ke orang lain. Masker wajah kain juga harus terus dipakai ketika Anda menjaga jarak aman corona. Hindari menggunakan masker bedah atau N95 karena masker tersebut sangat dibutuhkan oleh tenaga medis.

Mengapa SARS-CoV-2 menyebar dengan sangat cepat?

Para peneliti berusaha untuk menjawab pertanyaan tersebut. SARS-CoV-2 terus menyebar di seluruh dunia meskipun jumlah pembatasan perjalanan dan karantina kian meningkat. Hipotesa-hipotesa baru guna menjawab pertanyaan tersebut bermunculan. Salah satunya, menurut para peneliti, adalah karena pergerakan dari orang-orang yang tidak sadar telah tertular virus (antara mereka hanya memiliki gejala yang ringan atau karena kondisi mereka tidak menimbulkan gejala apapun).

Dalam sebuah studi pendahuluan, professor Chaolong Wang dan koleganya berpendapat bahwa 50 persen kasus yang terjadiselama outbreak di kota Wuhan tidak terkonfirmasi, dan ini berarti termasuk orang-orang yang tidak menunjukkan gejala apapun atau hanya gejala ringan yang tetap dapat berakivitas sosial dengan bebas. Dalam studi yang baru, para peneliti mengembangkakn sebuah metode yang mampu memprediksi pola penyebaran virus. Studi tersebut berdasarkan atas pergerakan populasi, kasus-kasus yang tidak terkonfirmasi, dan mereka yang sedang ada dalam pengawasan karantina. Menurut penelitian tersebut, banyak orang yang sudah tertular virus tidak menyadari bahwa mereka membawa coronavirus di dalam tubuh, dan mereka terus melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa virus tersebut dapat menyebar dengan sangat cepat di provinsi Hubei, dan sekarang sedang menyebar di seluruh dunia. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa sekitar 90 persen infeksi berhasil dicegah setelah pemerintah memberikan anjuran menjaga jarak aman corona.

Satu-satunya cara memotong rantai penyebaran

Penelitian lain sepertinya menuju arah yang sama. Misalnya, analisa model statistic yang muncul di jurnal Eurosurveillance mengindikasikan bahwa jumlahorang yang terjangkit virus di kapal pesiar Diamond Princess tetap menunjukkan gejala asymptomatic cukup banyak. Pada bulan Februari, beberapa penumpang di kapal pesiar tersebut dites positif memiliki COVID-19, yang menyebabkan terjadinya penyebaran infeksi di kapal. Dengan cepat, pemerintah setempat menyatakan bahwa kapal pesiar akan berada dalam status karantina selama 14 hari. Meskipun belum jelas apa kontribusi orang-orang tanpa gejala atau gejala ringan terhadap persebaran virus, banyak bukti menunjukkan bahwa orang-orang tersebut setidaknya mampu menularkan virus. Untuk itulah, jarak aman corona harus dipatuhi.

Hidup Sehat, Penyakit

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*