Kenali Efek Negatif LSD Selain Halusinasi, Narkoba Mirip Perangko

LSD dapat menimbulkan efek halusinasi

Lysergic acid diethylamide atau LSD merupakan salah satu jenis narkoba yang termasuk golongan halusinogen yang menyebabkan efek halusinasi. LSD merupakan salah satu obat berbahaya yang dapat merubah mood seseorang secara signifikan. Efek negatif LSD ini bahkan bisa berlangsung hingga 12 jam kemudian.

Bahaya Efek Halusinogen LSD pada Tubuh

Obat yang memiliki nama lain acid, sugar cubes, dots, blotter, hingga microdot ini tergolong obat berbahaya, tidak berwarna, tidak berbau dan rasanya agak pahit. LSD ini tersedia dalam bentuk tablet, pil, cairan bening, kapsul, kertas blotter seperti perangko, dan gelatin.

LSD yang berbentuk seperti perangko biasanya ditempelkan di lidah atau dijilat, kemudian beberapa saat efeknya akan mulai terasa. Sedangkan LSD yang berbentuk cair dan gelatin digunakan dengan cara diteteskan ke mata seperti obat tetes.

LSD bekerja dengan memengaruhi reseptor yang menghasilkan serotonin, yaitu hormon di otak yang berpengaruh pada mood, emosi, perasaan senang, euforia, serta persepsi. Biasanya efek obat ini akan terasa setelah 30-60 menit setelah digunakan dan tetap terasa hingga 12 jam. 

Karena efek inilah, pengguna akan menggunakan LSD berulang-ulang dengan tujuan untuk memperoleh reaksi yang serupa. 

Efek halusinogen ini akan langsung bekerja dengan intens dan cepat bahkan pada orang yang baru pertama kali menggunakan LSD. Efek samping halusinasi yang dirasakan pengguna ini disebut juga dengan istilah “tripping”. 

Namun, selain halusinasi, efek negatif LSD yang akan dirasakan oleh penggunanya adalah kehilang nafsu makan, mulut kering, kurang tidur, tremor, hingga merasakan perubahan visual. Bahkan, biasanya pengguna LSD ini akan fokus pada satu warna dengan intensitas tertentu.

Halusinasi ini juga disertai dengan adanya perubahan emosi yang sangat cepat dan intens. Jika saat ini pengguna merasa bahagia, maka beberapa detik setelahnya bisa saja berubah bahkan 360 derajat. Sehingga dampak Napza ini tidak bisa diprediksi pada masing-masing orang.

Efek Negatif LSD 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, LSD memicu perubahan persepsi dan biasanya berkaitan dengan penglihatan, emosi, sentuhan, dan pemikiran. 

Berikut beberapa efek negatif LSD yang bisa dirasakan jangka pendek, yaitu:

  • Merasa pusing dan sulit tidur
  • Pengguna menjadi halusinasi intens dan menyebabkan pupil membesar, kenaikan tekanan darah, suhu tubuh, dan detak jantung.
  • Nafsu makan menjadi berkurang, berkeringat, mulut kering
  • Tubuh tremor, merasa mati rasa, dan kelemahan
  • Pengguna LSD umumnya mengalami serangan panik, kecemasan, psikotik, kecemasan, gelisah, rasa sakit, paranoia, hingga perasaan sekarat atau gila.
  • Efek negatif LSD yang utama memengaruhi pikiran dengan distorsi visual serta halusinasi sensorik dan juga ilusi.

Ciri-ciri dan Gejala Sakau LSD

Seperti halnya jenis narkoba lain, LSD ini juga dapat menyebabkan kecanduan untuk mendapatkan rasa senang dan sensasi serupa lainnya. Kemudian, tubuh akan butuh dosis yang lebih banyak lagi untuk mencapai sensasi serupa karena toleransi terhadap efek obat.

Itulah kenapa ketika konsumsi LSD dihentikan secara tiba-tiba atau dosisnya diturunkan secara drastis, maka akan muncul gejala sakau, berupa gejala emosional dan fisik.

Berikut beberapa gejala umum ketika seseorang mengalami sakau LSD.

  • Tubuh berkeringat
  • Pupil membesar
  • Mual 
  • Mulut kering
  • Tremor atau gemeteran
  • Meningkatnya suhu tubuh
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Meningkatnya tekanan darah dan suhu tubuh
  • Jantung berdebar
  • Insomnia
  • Mengalami halusinasi visual
  • Lemah dan lesu
  • Mudah sekali tersinggung atau lebih sensitif
  • Distorsi waktu atau tidak bisa membedakan pagi, siang, atau malam

Gejala ini merupakan ciri-ciri gejala sakau ringan akibat LSD. Namun gejala akan semakin intens dan tidak mengenakan jika seseorang mengalami ‘bad trip’ atau perjalan halusinasi yang buruk. Berikut gejala sakau LSD yang berbahaya bagi penggunanya:

  • Panik
  • Merasa kecemasan ekstrem
  • Perasaan kehilangan jati diri
  • Paranoid tingkat tinggi
  • Ada percobaan bunuh diri
  • Cepatnya perubahan suasana hati secara signifikan
  • Paranoid tingkat tinggi

Rehabilitasi dari Ketergantungan Narkoba

Metode utama pemulihan diri dari ketergantungan dan gejala sakau adalah detoksifikasi. Proses detoksifikasi ini dapat dilakukan dengan rawat jalan maupun rawat inap di pusat rehabilitasi. Tapi akan lebih baik jika memilih rawat inap karena keinginan untuk mengkonsumsi LSD atau jenis narkoba lainnya akan sangat kuat, sehingga butuh pengawasan tim medis profesional.

Jangan sampai orang yang mengalami sakau dijauhi. Tetapi dibantu untuk bisa terbebas dari ketergantungan obat. Sebab, pecandu yang ingin bebas dari penggunaan obat-obatan ini pasti akan mengalami masa sakau.

Efek negatif LSD memang tidak hanya halusinasi saja, tetapi ada efek lain yang juga muncul akibat penggunaan obat-obatan berbahaya ini.

Kesehatan Mental Read More

Gejala dan Cara Mengatasi Post Power Syndrome

Apakah kamu pernah merasa kecewa, bingung, putus asa, atau bahkan khawatir yang berlebihan saat meninggalkan suatu jabatan, entah jabatan saat di kampus atau organisasi yang kamu ikuti? Jika iya, bisa jadi kamu mengalami post power syndrome. Kondisi ini merupakan salah satu kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan atau jabatan yang diikuti dengan menurunnya harga diri.

Sindrom ini biasanya muncul pasca pensiun, PHK, menurunnya ketenaran seorang artis atau seseorang yang memutuskan berhenti bekerja saat ia tengah berada pada posisi atau jabatan yang cukup penting.

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap sindrom ini diantaranya adalah mereka yang sangat bangga pada jabatannya, senang dihormati, senang mengatur orang lain dan selalu menuntut agar keinginan atau perintahnya dituruti.

Sehingga ketika masa kekuasaan itu berakhir, muncullah gejala post power syndrome yang merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang dalam menyesuaikan diri dengan kondisi barunya.

Meskipun bukan tergolong penyakit kejiwaan yang serius, post power syndrome perlu segera diatasi. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut akan menyebabkan masalah kesehatan seperti darah tinggi atau depresi di kemudian hari.

Gejala Post Power Syndrome

Gejala post power syndrome terbagi menjadi tiga, yakni gejala fisik, emosi dan perilaku. Secara fisik, penderita post power syndrome ditandai dengan penampilan yang terlihat lebih kuyu dan sering sakit-sakitan.

Sementara gejala emosi ditandai dengan penderita mudah tersinggung, lebih senang menyendiri, pemurung atau sebaliknya lebih cepat marah dan tersinggung jika pendapat atau ucapannya tidak dihargai.

gejala post power syndrome

Adapun gejala perilaku yang muncul bisa dilihat dari perubahan perilaku penderita yang cenderung lebih pendiam, pemalu atau sebaliknya malah terus menerus membanggakan kejayaan karirnya di masa lampau.

Berikut rangkuman mengenai gejala kondisi tersebut yang dikutip dari berbagai sumber:

  • Gangguan fisik berupa tampak lebih tua, sakit-sakitan, tidak bergairah.
  • Gangguan emosional berupa mudah tersinggung, pemurung, menarik diri dari pergaulan dan tidak suka dibantah.
  • Gangguan perilaku berupa pendiam atau malah berbicara tentang kehebatan di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, tidak mau kalah dan menunjukkan kemarahan di berbagai tempat (rumah dan tempat umum).

Cara mengatasi post power syndrome

Penderita sindrom ini memerlukan perhatian dan dukungan dari keluarga serta lingkungan sekitarnya. Berikut ini adalah upaya yang bisa dilakukan untuk membantu mengatasi post power syndrome.

  • Jadilah orang yang selalu bersyukur dan bukan orang yang fokus pada materi.
  • Sadari bahwa kekuasaan dan jabatan adalah tanggung jawab yang harus dijalankan dengan baik, bukan hal yang sifatnya permanen dan menjadi bahan untuk pamer, sombong atau sok jagoan.
  • Apakah anda tahu ada banyak pemimpin (leader) yang semakin dihormati saat mereka pensiun atau purna tugas? Tetapi tidak semua pemimpin bisa seperti itu. Hal-hal yang membedakan kedua jenis pemimpin tersebut adalah: ketulusan dan keikhlasan saat memimpin, prestasi saat memimpin dan kaderisasi (regenerasi) kepemimpinan. Orang akan memberikan penghargaan kepada pemimpin yang bisa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat pada saat mereka memimpin dan setelah mereka memimpin.
  • Miliki persiapan baik secara jasmani, rohani dan finansial, saat menjelang pensiun. Post power syndrome dalam bahasa sederhana mirip seperti orang yang minder atau tidak percaya diri, karena kehilangan beberapa hal. Jadi persiapan yang matang adalah salah satu solusinya.

Demikianlah penjelasan mengenai penyebab dan cara mengatasi post power syndrome yang perlu diketahui.

Kesehatan Mental Read More