Fakta-Fakta Penting Terkait Mastoiditis pada Anak Balita

Peradangan yang disebabkan infeksi dapat terjadi di bagian tubuh mana saja, termasuk di belakang telinga. Mastoiditis namanya. Penyakit ini tepatnya menyasar tulang mastoid, salah satu tulang di tengkorak dan posisinya mengelilingi telinga bagian tengah dan bagian dalam.

Jika sudah terserang mastoiditis, kehidupan manusia akan sangat terganggu. Karena penyakit ini memiliki gejala yang berpotensi membuat seseorang limbung lantaran menahan sakit. Bahkan, penyakit ini berpotensi dalam memberikan gejala kesehatan lain yang cukup serius, termasuk kehilangan pendengaran untuk selama-lamanya.

Kondisi ini lazimnya disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae dan Streptococcus pyogenestipe A. Namun infeksi mastoid juga dapat terjadi akibat kolesteatoma. Kolesteatoma adalah kumpulan jaringan kulit yang menyerupai batu kecil. Kondisi ini bisa menyumbat saluran udara di telinga dan mastoid, sehingga keduanya rentan mengalami infeksi.

Mastoiditis bisa menyerang siapa saja. Manusia dengan usia berapa pun, termasuk juga kelompok anak-anak di bawah lima tahun atau balita. Berikut ini beberapa fakta terkait mastoiditis pada balita yang dapat Anda jadikan sebagai sarana untuk memulai prosedur pencegahan.

  1. Tulang Mastoid Merupakan Sasaran Utama Mastoiditis

Menurut ensiklopedia kesehatan University of Rochester Medical Center, mastoiditis pada balita adalah kondisi infeksi atau peradangan akibat bakteri pada rongga tulang mastoid.

Tulang mastoid sendiri terletak di belakang telinga dan berfungsi untuk mengeringkan bagian telinga tengah, mengatur tekanan udara di telinga, juga melindungi tulang temporal.

  • Gejala Mastoiditis pada Balita Serupa dengan Orang Dewasa

Gejala awal mastoiditis pada balita adalah rasa sakit di belakang telinga, tapi menurut situs Children’s National, biasanya disertai juga dengan gejala lain seperti:

  • Bagian belakang telinga yang terlihat membengkak dan berwarna kemerahan.
  • Keluarnya cairan kental dari telinga.
  • Cuping telinga yang menonjol keluar karena pembengkakan pada tulang mastoid.
  • Demam dan sakit kepala.
  • Nyeri pada telinga dan gangguan pendengaran.

Bila melihat gejala seperti di atas, segeralah bawa anak Anda ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat hingga tuntas.

  • Sebabkan Komplikasi yang Serius

Mastoiditis pada balita tidak boleh diabaikan dan harus ditangani secara serius dan sesegera mungkin. Pasalnya bila dibiarkan, infeksi bisa terus menyebar dan menyebabkan berbagai komplikasi serius, seperti:

  • Meningitis: Infeksi yang menyebabkan peradangan pada selaput di sekitar otak dan tulang sumsum.
  • Abses otak: Infeksi pada otak yang ditandai dengan kantung berisi nanah.
  • Kehilangan pendengaran.
  • Labirintitis: Infeksi di bagian dalam telinga.
  • Kerusakan saraf wajah yang bisa menyebabkan kelumpuhan wajah.
  • Gangguan penglihatan dan sakit kepala akibat adanya gumpalan darah di otak.
  • Bukan Sekadar Infeksi Telinga

Otitis media atau infeksi telinga terjadi akibat adanya cairan yang mengandung bakteri atau virus pada bagian tengah telinga.

Mengutip Children’s Hospital of Philadelphia, infeksi telinga pada balita yang tidak ditangani dengan baik hingga tuntas dapat membuat cairan yang mengandung bakteri dan virus menyebar ke sel udara pada tulang mastoid dan menyebabkan mastoiditis pada balita.

Dalam beberapa kasus, mastoiditis pada balita juga bisa disebabkan oleh menumpuknya sel kulit yang disebut dengan kolesteatoma sehingga membuat cairan terakumulasi di tulang mastoid.

  • Pengobatan Sesuai Tingkat Keparahan

Semakin cepat mastoiditis pada balita ditangani, maka akan semakin ringan pula prosedur pengobatan yang harus dijalankan olehnya. Mastoiditis ringan biasanya diatasi dokter dengan pemberian antibiotik, tapi tidak menutup kemungkinan dilakukan prosedur pengeringan cairan di dalam telinga dengan mengunakan selang timpanostomi maupun miringotomi atau operasi kecil pada gendang telinga.

***

Itulah kira-kira beberapa fakta penting terkait mastoiditis pada balita. Jika anak Anda mulai rewel dan mengeluhkan rasa sakit di belakang telinga, jangan abai! Segeralah bawa ia ke dokter agar mendapat pertolongan demi menjaga kemungkinan kondisi kesehatan yang lebih baik ke depannya.

Penyakit Read More

Cara Cegah Agar Tidak Kena Batu Ginjal

Salah satu penyebab batu ginjal adalah kurang minum

Menjadi salah satu penyakit yang paling mengkhawatirkan dan membuat banyak orang berhati-hati dalam mengonsumsi makanan. Batu ginjal merupakan benda keras yang terbuat dari bekuan kalsium, penyakit ini ditandai dengan rasa sakit ketika buang air kecil atau bahkan kencing berdarah. Penyebab batu ginjal bisa menyebabkan komplikasi kesehatan apabila tidak segera ditangani.

Terdapat beberapa cara yang bisa digunakan untuk mencegah terjadinya batu ginjal, salah satunya adalah minum air putih yang banyak. Konsumsi air putih sebanyak 8 gelas per hari mampu menurunkan risiko pembentukan batu ginjal. Batasi minuman bersoda, karena konsumsi satu gelas soda seharinya mampu meningkatkan risiko terkena batu ginjal sebanyak 23 persen.

Penyebab Batu Ginjal

Sebuah endapan keras yang muncul karena zat di air kencing yang mengeras melalui proses nephrolithiasis. Bentuk penyakit ginjal ini pada umumnya berukuran kecil, atau hanya mencapai beberapa inci, ukuran yang lebih besar biasanya mengisi saluran air kencing dari ginjal ke kandung kemih, biasanya disebut dengan staghorn.

Batu ginjal atau juga disebut dengan kencing batu disebabkan karena urin dan air terlalu banyak mengandung bahan kimia. Seperti, kalsium, asam urat hingga sistin atau campuran fosfat, magnesium dan ammonium.

Selain itu, melakukan diet protein dengan sangat tinggi dan kurangnya asupan air putih dalam tubuh juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Fakta menunjukkan sebanyak 85 persen, penyakit batu ginjal terbuat dari zat kalsium. Berikut ini beberapa jenis penyebab yang dapat membuat seseorang mengalami batu ginjal.

  • Tumpukan Kalsium

Kelebihan kalsium merupakan salah satu penyebab munculnya batu ginjal atau kencing batu. Hal ini dikarenakan kalsium yang tidak terpakai oleh tulang dan otot akan dilimpahkan ke ginjal, sementara itu ginjal akan mengeluarkan kalsium dalam jumlah yang banyak bersamaan dengan sisa urine. 

  • Asam Urat Tinggi

Asam urat muncul ketika air seni mengandung terlalu banyak asam, biasanya kondisi ini disebabkan karena konsumsi makanan yang berlebihan. Seperti banyak mengonsumsi daging, ikan dan kerang sangat rentan terkena asam urat.

Mencegah Batu Ginjal

  • Perbanyak Air Putih

Konsumsi Air Putih Banyak bisa menjadi langkah konkret yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan batu ginjal. Rajin mengonsumsi air putih sangat cepat untuk menurunkan risiko terjadinya pembentukan batu ginjal.

  • Kurangi Asupan Garam

Konsumsi garam yang berlebih mampu memicu penyakit batu ginjal, hal ini karena garam yang berlebih bisa meningkatkan jumlah kalsium dalam urine. Diketahui bahwa batas wajar asupan garam dalam satu hari setara dengan satu sendok teh garam dapur.

  • Batasi Asupan Protein

Daging merupakan sumber protein hewani termasuk telur, jeroan, seafood dan susu hingga produk susu yang mengandung purin. Beberapa kandungan yang dimiliki protein hewani ini akan dibentuk menjadi asam urat di dalam urine. 

Terlalu banyak konsumsi protein, khususnya protein hewani bisa memicu terbentuknya batu ginjal dalam jangka waktu lama. Sangat direkomendasikan untuk mengonsumsi sebanyak lebih dari 170 gram daging dalam satu hari untuk dapat mencegah batu ginjal.

  • Jaga Berat Badan

Berat badan terlebih sangat berkaitan dengan muncul dan berkembangnya batu ganjil, kondisi memiliki berat badan berlebih bisa menyebabkan resistensi insulin dan meningkatnya jumlah kalsium dalam urine. Kondisi sangat berisiko dan memperbesar munculnya batu ginjal, karena pH urine cenderung asam.

Beberapa cara tersebut bisa mencegah timbulnya penyebab batu ginjal, cara melakukannya pun juga sangat mudah. Segera ubah gaya hidup menjadi lebih sehat, gaya hidup sehat terbukti ampuh mencegah munculnya penyakit itu.

Penyakit Read More

Penyakit Herpes: Apa Saja Yang Perlu Diketahui?

Herpes adalah penyakit yang menular melalui virus sehingga terjadi infeksi pada tubuh. Virus herpes tidak hanya menyebabkan infeksi pada tubuh, namun manusia cenderung merasakan nyeri pada tubuh.

Penyakit herpes dibagi menjadi dua jenis, yaitu herpes genital dan herpes oral. Kedua jenis herpes memberikan dampak signifikan pada tubuh berupa virus sehingga mengakibatkan gangguan serius pada tubuh seperti HIV sehingga memerlukan perawatan secara bertahap.

Herpes terjadi ketika seseorang melakukan kegiatan seks dengan pasangannya. Kedua jenis herpes menyebarkan virus berupa virus herpes simpleks atau HSV. HSV terdiri dari 2 bagian, yaitu HSV-1 dan HSV-2.

HSV-1 adalah virus yang sebagian besar menular pada bagian atas tubuh yang meliputi mulut, lidah, gusi, dan tenggorokan. HSV-2 adalah virus yang sebagian besar menular pada bagian bawah tubuh. Bagian bawah tubuh meliputi area sensitif seperti vulva, vagina, penis, dan skrotum.

Menurut Women’s Health, peluang terkena risiko herpes pada remaja laki-laki hingga pria paruh baya hanya sebesar 10%, sedangkan dari remaja perempuan hingga wanita paruh baya memiliki risiko dua kali lebih besar dari laki-laki.

Herpes menyebabkan gejala ringan pada tubuh seperti flu, sakit kepala, nyeri pada tubuh, bahkan demam sehingga muncul luka. Jika Anda mengalami luka karena herpes dan belum pernah merasakan ini sebelumnya, maka rasa sakitnya pada awal akan terasa berat. Namun jika gejala pada herpes muncul kembali, rasa sakit semakin berkurang.

Gejala lain yang menyebabkan rasa sakit sampai terlihat parah antara lain keputihan, nyeri pada alat kelamin ketika buang air kecil karena urin menyentuh luka herpes, dan gatal-gatal.

Ketika manusia melakukan seks, herpes genital berperan aktif dalam menyebar virus sehingga menyebabkan luka pada kulit dan mulut. Herpes juga dapat menyebar ke tubuh manusia walaupun mereka tidak mengalami gejala apapun.

Virus yang berdampak pada tubuh mengalir dari suatu bagian tubuh ke bagian tubuh yang lain, dan ini bergantung seseorang yang menyentuh luka di bagian mana dan menyebar ke mana saja.

Pada umumnya herpes terjadi pada semua orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun peluang terkena herpes lebih sedikit dibandingkan dengan bayi yang baru lahir. Ada kemungkinan jika wanita hamil tertular herpes setelah berhubungan secara seksual sehingga bisa menyebabkan kebutaan, kerusakan otak, dan kematian pada bayi. Walaupun demikian, gejala tersebut dapat dicegah dengan operasi Caesar.

Penyakit herpes dapat didiagnosis. Anda perlu konsultasi dengan dokter jika tidak tahu mengalami penyakit herpes atau tidak, dan dokter akan memeriksa Anda jika Anda memiliki gejala tertentu. Setelah itu, dokter akan sampel luka yang kemudian akan diuji di laboratorium. Sampel luka yang diambil dapat mengindikasikan jika adanya gejala secara khusus yang mengakibatkan luka pada tubuh.

Walaupun herpes tidak dapat sepenuhnya disembuhkan, Anda bisa menggunakan obat untuk mencegah atau menunda terjadinya penyakit tersebut. Penyakit tersebut tidak dapat ditentukan mengenai kapan akan datang, namun bisa diperlambat. Obat yang bisa digunakan antara lain obat acyclovir, valacyclovir, dan antivirus.

Selain itu, untuk mencegah herpes, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Anda perlu menjaga higienis dengan selalu cuci tangan dengan sabun untuk mencegah infeksi. Kedua, jika Anda mengalami luka, sebaiknya jangan disentuh. Anda sebaiknya mencuci bekas luka dan membersihkannya dengan kapas. Terakhir, jangan berhubungan seks jika Anda atau pasangan Anda terkena virus herpes.

Penyakit Read More

Gejala dan Faktor Risiko Sepsis

Pernahkah Anda mendengar istilah medis sepsis? Sepsis adalah sebuah penyakit yang mengancam nyawa yang disebabkan oleh respon sistem kekebalan tubuh terhadap suatu infeksi. Sistem kekebalan tubuh Anda melindungi tubuh dari berbagai jenis penyakit dan infeksi. Namun, sistem kekebalan tubuh ini juga dapat bekerja secara berlebihan untuk melawan suatu infeksi. Sepsis terjadi saat zat kimia yang ada di sistem kekebalan tubuh masuk ke dalam aliran darah untuk melawan infeksi. Alih-alih melawan infeksi, hal ini memicu peradangan di seluruh bagian tubuh. Beberapa kasus sepsis dapat bertambah parah dan menjadi syok septik, sebuah kondisi medis darurat. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, terdapat lebih dari 1.5 juta kasus sepsis setiap tahunnya. Dan infeksi ini membunuh sekitar 250 ribu orang setiap tahun di Amerika. Artikel ini akan membahas gejala dan faktor risiko sepsis.

Gejala Penyakit Sepsis

Gejala atau tanda-tanda penyakit sepsis setelah infeksi terjadi terkadang sulit untuk dilihat. Tidak jarang bahkan sering dianggap sebagai kondisi medis serius lain. Akan tetapi, sepsis biasanya memiliki gejala seperti berikut ini, yang akan muncul setelah terjadinya infeksi, seperti:

  • Demam tinggi, diikuti dengan tubuh yang menggigil hebat
  • Detak jantung yang cepat (tachycardia)
  • Bernapas dengan cepat (tachypnea)
  • Berkeringat dalam jumlah yang banyak dan tidak wajar (diaphoresis)

Sangat penting untuk segera menghubungi dokter agar mendapatkan bantuan medis terutama apabila sepsis telah berkembang ke tahap selanjutnya seperti sepsis berat dan syok septik. Gejala yang ditimbulkan pada tahapan sepsis selanjutnya seperti:

  • Pusing atau rasa ingin pingsan
  • Bingung, perubahan kondisi mental yang tidak biasa
  • Diare, muntah-muntah dan mual
  • Rasa sakit pada otot
  • Kesulitan bernapas
  • Jumlah urin yang keluar sedikit
  • Kulit yang dingin dan pucat
  • Kehilangan kesadaran

Cari bantuan medis secepatnya apabila tanda-tanda di atas muncul. Lansia dan anak0anak sangat rentan terena sepsis setelah infeksi dan memiliki risiko lebih tinggi untuk kondisi ini bertambah semakin parah. Sepsis memiliki efek yang serius dan berpotensi untuk mengancam jiwa. Meskipun demikian, kesempatan sembuh dari penyakit sepsis ringan cukup tinggi. Syok septik memiliki tingkat kematian sebesar 50%. Memiliki sepsis yang parah dapat meningkatkan risiko infeksi di masa mendatang. Sepsis berat dan syok septik juga dapat menyebabkan komplikasi. Penyumbatan darah dapat terjadi di seluruh tubuh. Sumbatan darah ini akan menyumbat aliran darah dan oksigen ke organ tubuh vital dan bagian-bagian tubuh lain. Hal ini akan meningkatkan risiko kegagalan organ dan kematian jaringan.

Faktor Risiko Sepsis

Semua orang bisa menderita sepsis. Meskipun demikian, ada beberapa yang mmiliki risiko lebih tinggi untuk terkena infeksi, seperti anak-anak dan lansia, orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah (mereka yang menderita sakit HIV atau sedang dalam menjalani perawatan kemoterapi untuk mengobati kanker), orang-orang yang dirawat di unit perawatan insentif, dan orang-orang yang terpapar alat-alat invasive seperti kateter intravena dan tabung pernapasan. Sepsis bukanlah suatu penyakit yang menular. Namun, bakteri patogen yang menyebabkan infeksi awal yang mengakibatkan sepsi dapat menular. Sepsis menyebar pada tubuh dari sumber infeksi awal ke organ tubuh lain melalui aliran darah. Apabila Anda memiliki tanda-tanda atau gejala tersebut di atas, segera hubungi dokter. Dokter akan melakukan tes untuk membuat diagnosa dan memutuskan seberapa parah infeksi yang dimiliki. Perawatan akan bergantung pada hasil diagnosa dan pemeriksaan yang dilakukan.

Penyakit Read More

Ini Akibatnya Jika Terlalu Lama Bekerja di Depan Layar

akibat bekerja terlalu lama di depan layar

Saat ini hampir seluruh kegiatan manusia berhubungan dengan komputer. Umumnya, 80 persen pekerjaan di kantor menggunakan komputer. Tuntutan pekerjaan dan pencarian informasi membuat pekerja menghabiskan sedikitnya tiga jam di depan komputer setiap hari.

Terlalu lama di depan komputer bisa menyebabkan masalah okuler (mata dan penglihatan). The American Optometric Association (AOA) menyebutnya sebagai Computer Vision Syndrome atau CVS. CVS didefinisikan sebagai gambaran sekelompok masalah okuler yang timbul pada orang yang bekerja dengan komputer dalam waktu panjang. Gejala CVS adalah mata lelah, tegang, terasa berat, pegal, kering dan teriritasi,perih, terasa berpasir, penglihatan kabur, dan nyeri kepala.

S. Zulaikha, Irwandi Rachman, dan Rara Marisdiyana dari Program Studi Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Harapan Ibu, Jambi, meneliti sekelompok pekerja di PT Telkom Akses Jambi pada 2017. Pekerja yang mereka teliti menggunakan komputer di sebagian besar waktu mereka di kantor.

Berdasarkan wawancara 41 pegawai PT Telkom Akses Jambi, didapati 32 responden atau 78 persen mengalami keluhan CVS. Keluhan paling tinggi adalah mata lelah dan tegang, diikuti mata kering dan teriritasi. Mereka rata-rata bekerja selama 7,5 jam per hari di depan komputer. Semua responden tersebut sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit mata, seperti rabun dekat, rabun jauh, menggunakan kacamata dan contact lens, katarak, dan lainnya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan riset sebelumnya. Misalnya yang dilakukan sekelompok periset di Teerthanker Mahaveer University, di Moradabad, India, serta penelitian terhadap sekelompok karyawan call center di Metro Manila, yang mengeluhkan mata tegang, kering, dan sakit akibat lama bekerja di depan komputer. 

Berdasarkan penelitian sebelumnya, didapati salah satu cara mengurangi dampak mata lelah adalah dengan merendahkan posisi monitor. Rekayasa posisi seperti ini membuat lebih banyak luas permukaan bola mata yang tertutup kelopak mata. Hal itu secara tidak sadar membuat membuat mata lebih sering berkedip.

Para peneliti juga mendapati hubungan antara CVS dan penerangan ruangan. Intensitas pencahayaan di ruang kerja PT Telkom Akses tidak lebih dari 100 lux, rata-rata hanya 62 lux. Padahal, standar pencahayaan perkantoran yang dianjurkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/MENKES/SK/XI/2002 untuk ruang kerja pengguna komputer adalah 300-500 lux.  “Hal ini dapat mengakibatkan dampak buruk bagi kesehatan mata,” ujar Irwandi Rachman, peneliti, seperti dikutip dari Kes Mas: Jurnal Fakultas Kesehatan Masyarakat Edisi Maret 2018. Dia mengatakan salah satu dampaknya adalah penurunan kemampuan visual, karena mata bekerja terlalu fokus menatap monitor yang membuat otot mata bekerja secara terforsir.

Posisi layar komputer juga mempengaruhi kesehatan mata. Layar komputer pantang menghadap jendela atau sumber pencahayaan lain karena akan menimbulkan efek silau. Pencahayaan yang kelewat terang akan membuat karakter huruf atau gambar pada layar menjadi kabur. Jika, komputer Anda menghadap jendela, sebaiknya geser ke posisi lain atau pasang tirai pada jendela.

Jarak mata terhadap layar komputer juga berpengaruh. Kebanyakan responden yang mengeluhkan terkena CVS bekerja di jarak yang tidak aman, yaitu di bawah 50 sentimeter. Umumnya, mereka memperkecil jarak dengan komputer agar dapat mengerjakan tugas secara lebih teliti. Jarak aman mata dari layar komputer adalah 50 sampai 100 sentimeter. Jika dalam jarak itu Anda tidak dapat membaca dengan jelas, perbesar font di aplikasi Anda, jangan mendekati wajah ke layar. Semakin jauh jarak antara mata dan layar, semakin kecil risiko mata lelah.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa bekerja di depan komputer selama lima jam atau lebih sehari berasosiasi menimbulkan CVS. Semakin panjang waktu kerja seseorang di depan komputer, semakin besar kemungkinan terjadi hal-hal yang bersifat negatif. Penggunaan komputer yang terbilang lama harus diselingi aktivitas lain atau melakukan istirahat mata. Jangan hanya mengandalkan waktu istirahat makan siang untuk relaksasi mata. Beristirahat beberapa kali dalam waktu pendek, cukup semenit, lebih efisien ketimbang istirahat panjang yang hanya sekali selama jam kerja.

Ada tips aturan istirahat yang dapat digunakan pekerja dengan komputer, yaitu 20/20/20. Jadi, setelah bekerja selama 20 menit, alihkan pandangan ke objek yang jauh–sekitar 20 kaki atau enam meter–, selama 20 detik.

Penyakit Read More