Tocilizumab, Obat Covid-19 yang Menurunkan Risiko Kematian?

Pandemik Covid-19 yang terjadi di hampir seluruh dunia ini telah terjadi lebih dari enam bulan. Namun, hingga saat ini belum juga ada obat pasti yang bisa mengobati virus tersebut. Dan, baru-baru ini telah ditemukan salah satu obat bernama tocilizumab yang diklaim dapat menutunkan risiko kematian pada pasien Covid-19, bahkan pada pasien kritis yang menggunakan ventilator sekalipun.

Pasien yang menerima obat ini memiliki 45% lebih kecil kemungkinan meninggal dan lebih mungkin keluar dari rumah sakit atau terlepas dari ventilator dalam 28 hari. Jadi, benarkan obat ini dapat menyembuhkan pasien Covid-19, bahkan dalam kondisi kritis sekalipun? Lalu, sebenarnya obat jenis apakah tocilizumab? Berikut penjelasan tentang efektivitas obat pada pasien Covid-19.

Efektifkah tocilizumab untuk pasien Covid-19?

Obat ini termauk dalam golongan obat injeksi atau suntik yang bekerja untuk menghambat interleukin-16 (IL-6)- yang diproduksi oleh tubuh saat mengalami peradangan akibat gejala virus corona yang parah. Pada sebuah studi terbaru, pasien Covid-19 yang sangat kritis sekalipun meningkatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk lepas dari ventilator ataupun sembuh dari virus tersebut, dibandingkan dengan penderita yang tidak mendapatkan obat tersebut.

Penelitian dari University of Michigan (UM), Amerika serikat, menemukan bahwa pasien Covid-19 yang menerima tocilizumab intravena (obat yang menekan sistem kekebalan) lebih kecil kemungkinan untuk meninggal, meskipun dua kali lebih mungkin untuk mengembangkan infeksi tambahan.

Tocilizumab saat ini sedang diuji sebagai terapi potensial untuk memadamkan badai sitokin yang disebabkan oleh reaksi berlebihan sistem kekebalan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Awalnya dikembangkan untuk mengobati rheumatoid arthritis, suatu kondisi autoimun yang menyebabkan peradangan sendiri yang menyakitkan. Pasalnya, obat tersebut sebelumnya digunakan untuk mengobati sitokin pada pasien yang menerima imunoterapi kanker.

Pada beberapa pasien yang diberikan obat tersebut setelah 28 hari, pasien dengan ventilator sekitar 18% passion yang diberikan tocilizumab telah meninggal dan sekitar 36% lainnya sembuh dan lepas dari ventilator. Hal ini menunjukkan adanya penurunan angka kematian sebesar 45%. Meskipun begitu, efektivitas dari obat ini masih akan terus diteleiti hingga sekarang.

Efek samping tociluzumab

Meskipun kemapuhan obat ini belum teruji 100%, tocilizumab pun memiliki efek samping. Efek samping yang paling umum terjadi adalah hidung berair atau tersumbat, sakit tenggorokan, infeksi sinus, sakit kepala, tekanan darah tinggi dan reaksi di tempat suntikan. Dan, efek samping yang jarang terjadi serta lebih serius termasuk infeksi dan proforasi gastrointestinal.

Sebuah penelitian dari Food and Drug Administration’s Adverse Event Reporting System (FAERS) menunjukkan bawha mungkin ada risiko lainnya yang tidak termasuk dalam label obat. Efek sampingnya termasuk risiko kardiovaskular, pankreatitits, dan penyakit paru interstisial.

Efek samping yang umum terjadi:

  • Hidung berair, atau tersumbat, nyeri sinus atau sakit tenggorokan
  • Flu biasa
  • Sakit kepala atau pusing
  • Meningkatkan tekanan daran tinggi
  • Tes fungsi hati yang abnormal
  • Nyeri, bengkak, terbakar, gatal atau iritasi di tempat suntikan diberikan.

Jadi, sejauh ini keampuhan tocilizumab ini masih belum dibuktikan seratus persen untuk apsien Covid-19 yang dalam keadaan kritis dengan ventilator. Dan sampai saat ini pun masih terus dilakukan penelitian uji klinis terhadap obat tersebut. Tidak hanya itu, para ilmuwan di seluruh dunia masih coba membuktikan keampuhan dari obat tersebut pada pasien Covid-19, baik yang kritis maupun risiko sedang.

Penyakit Read More